Dapatkah kita memilih Mimpi Indah?


Peran mimpi dalam peradaban manusia memiliki sejarah yang panjang memang. Mimpi dikenal dari awal peradaban manusia. Kita tilik kebelakang, “manusia gua,” menjadikan mimpi sebagai petunjuk kehidupannya. Bahkan pada suku-suku tertentu, seperti penduduk asli America, Indian, mereka sangat bergantung pada mimpi dalam berburu ataupun mengambil sikap dalam berperang.

Di millennium ini, mimpi juga masih berperan besar dalam kehidupan seseorang. Tak sedikit orang yang mengalami mimpi buruk di dalam tidurnya. Judul di atas, menimbulkan rasa ingin tahu besar. Bagaimana mungkin kita dapat memilih mimpi sesuai kehendak kita? Apakah yang harus dilakukan untuk dapat memilih mimpi?

Sebelum kita melangkah kepada pertanyaan di atas, marilah kita memahami dahulu apa itu mimpi?

Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra-indra lain dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep). Pemimpi juga dapat merasakan emosi ketika bermimpi, misalnya emosi takut dalam mimpi buruk. Kejadian dalam mimpi biasanya mustahil terjadi dalam dunia nyata, dan di luar kuasa pemimpi. Sedangkan Ilmu yang mempelajari mimpi disebut oneirologi.

Kemudian, bagaimanakah cara untuk merubah mimpi?

Sebenarnya, mimpi tak dapat kita kontrol seperti halnya memilih sebuah channel televisi ataupun film yang ingin kita lihat. Tetapi terdapat penelitian mengenai keterkaitan antara bau dengan mimpi yang dilakukan oleh Boris Stuck dari University Hospital Mannheim, Jerman.

“Jika bau memiliki pengaruh kuat terhadap emosi Anda saat bangun, ia juga punya pengaruh yang kuat saat Anda tidur,” ujarnya saat mempresentasikan temuannya dalam pertemuan tahunan Akademi Otolaringologi Amerika – Bedah Kepala dan Leher, Maret 2009.

Penelitian terhadap 15 orang perempuan berusia rata-rata 20 tahun. Pemilihan perempuan berusia muda, dikarenakan mereka memiliki sensor penciuman yang tajam di usia tersebut. Dengan mengukur aktifitas gelombang otak mereka saat tidur, mereka juga diberikan bau-bauan seperti, mawar, telur busuk, sulfur dan tanpa bau sama sekali.

Setelah beberapa menit mengamati aktifitas otak mereka saat tidur dengan EEG (Electroencephalography), mereka dibangunkan dan ditanyai mengenai mimpi mereka. Ujian tersebut dilakukan tiga kali berturut-turut, dengan bau-bau seperti disebutkan di atas.

Hasilnya kesimpulan adalah bau-bau yang wangi membuat mimpi seseorang indah, sedangkan bau busuk membuat seseorang mimpi buruk. Hal ini dapat diketahui bahwa, sensor penciuman berkaitan erat dengan system limbic pada otak yang mengatur emosi dan perilaku manusia.

Sejauh apa keefektifan penelitian tersebut, masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Menurut pengalaman saya pribadi, apa yang dikatakan oleh Boris Stuck itu memiliki signifikasi. Dahulu saat saya sering mengalami mimpi buruk dalam tidur saya, beberapa teman saya menyarankan agar saya mulai menggunakan wewangian di ruang tidur saya. Karena tidak begitu memahaminya, saya hanya mengenakan parfum di badan, kemudian pergi tidur. Setelah beberapa hari, barulah saya sadar, tidak lagi mengalami mimpi-mimpi buruk yang selama ini sering muncul.

Anda tertarik untuk mencobanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s