Poligraf

Polisi Amerika sejak tahun 1924, telah menggunakan mesin poligraf secara ekstensif. Mesin ini bukanlah alat ajaib yang bisa meramal sehingga dapat mengukur emosi dari jawaban berbelit yang diberikan oleh seorang tersangka kriminal. Sebaliknya, poligraf bekerja dengan mengukur tekanan darah, denyut jantung, kecepatan pernafasan dan aktivitas elektro dermal/Galvanic Skin Resistance (keringat, dalam kasus ini pada jari) secara bersamaan menggunakan tabung pneumograf.

What the hack, tabung pneumograf atau pneumographs?
Tenang bro and sist, ane jelasin apaan tuh pneumographs, ini bukan sejenis ‘penemuan garpu’. So, ente pelototin tulisan ini.

Pneumographs versi old schools!
Tabung ini berwujud tabung karet yang berisi udara yang diikatkan mengelilingi area perut/dada. Ketika dada atau otot-otot perut mengembang, udara di dalam tabung dipindahkan dalam bentuk grafik pada layar. Tanda dikertas bergulir jika subjek mengambil nafas.

Pneumographs versi modern!
Dalam poligraf digital masih digunakan pneumographs namun menggunakan transduser guna mengubah energi udara yang dipindahkan ke sinyal elektronik.

Ngapain pula pake Skin Resistance segala dalam poligraf? Emang mau perawatan kulit wajah?

Wah, belum tentu yang bahasa Linggisnya Skin urusannya ama kecantikan bro & sist. Ok! Duduk manis atau selonjoran dulu, sambil baca penjelasannya berikut ini.

Galvanic Skin Resistance digunakan untuk mencatat aktivitas elektro-dermal. Pada dasarnya mengukur keringat di ujung jari yang dipasang sensor. Diketahui, ujung jari adalah salah satu daerah yang paling berpori pada tubuh dan indikasinya saat seorang subjek berkeringat, maka subjek tersebut sedang dalam tekanan dan secara alami keringat muncul disaat seseorang berbohong.

Bujubune! Nggak ngerti aku.
Emang bro & sist mau jadi operator mesin poligraf, pake kudu ngerti segala? Sekolah yang pinter dulu dan tulisannya bagusin dulu, supaya saya bisa bacanya. 🙂

Lha wong, Reza Indragiri yang sempat dimintai bantuan oleh kepolisian RI untuk mendeteksi kebohongan para tersangka beberapa kasus, harus sekolah ke Australia untuk memahaminya. Ngomong-ngomong soal negeri Kangguru, jadi inget adik dan ipar saya yang lagi leyeh-leyeh di sana sekarang. Apa kabar mereka?
Ini bukan tulisan berbayar, apalagi meminta dibelikan Ipad segala oleh mereka :).

Woi, woi, ngelantur bae akang!
Ehhhh, iya. (Gugup membenarkan posisi duduk). Kembali ke masalah mesin poligraf. Udah ambil minumnya?

Impuls-impuls yang diterima oleh tabung pneumograph digambarkan pada kertas grafik yang bergerak, yang digerakkan motor listrik secara serentak. Teorinya, pernafasan, tekanan darah dan denyut jantung adalah gerakan yang tidak disadari, tapi berkaitan dengan emosi orang yang bersangkutan.

Fluktuasi dari angka normal pada poligraf mengatakan adanya pergolakan emosi dan polisi menarik kesimpulan bahwa orang tersebut berbohong. Menguji alat pendeteksi kebohongan adalah prosedur yang memerlukan keahlian dan ketegasan dari seorang administrator yang dilatih secara khusus.

Nah, alat ini bekerja saat subjek menjawab serangkaian pertanyaan dari seorang administrator mesin poligraf. Tentu saja dengan pertanyaan yang benar, bukan bertanya langsung pada pertanyaan kunci seperti: “Apakah kamu membunuh pacarmu?”

Penggunaan pertanyaan pembanding seperti, “Siapa namamu?” atau “Apakah kamu pernah mencuri apapun selama hidupmu?” Jika pertanyaan terkahir tadi dijawab tidak, peluangnya dia berbohong, perubahan denyut jantung dan pernafasan dapat diamati.

Meski dalam beberapa peristiwa subjek mungkin benar-benar ‘dipaksa’ untuk berbohong, sehingga administrator harus membandingkan derajad penyimpangan pada mesin poligraf, beberapa benar, beberapa bisa salah.

Semenjak hasil pengujian poligraf tergantung kemampuan tugasnya, secara absolut dilarang sebagai bukti kesaksian di pengadilan. Atas berbagai macam alasan ilmiah, hingga saat ini para ahli Psikologi sangat tidak mempercayai keabsahan poligraf. Tapi polisi yang menggunakan orang-orang yang dianggap terlatih sebagai administrator, mengganggap poligraf adalah alat bantu yang bermanfaat.

Emang penegak hukum ‘raja ngeyel’ udah dikasih tau kalau keabsahan data poligraf diragukan oleh ahli psikologi masih aja paksaain untuk dipakai dalam proses penyelidikan.

“Selalu ada celah dalam hukum.” Rupanya kalimat itu sangat dimanfaatkan oleh penegak hukum. Segalanya saya kembalikan pada bro & sist dalam menyikapinya. Namun jangan tanya dimana untuk melakukan tes poligraf guna mengetahui pasangan bro & sist bohong atau tidak. Kecuali berencana membuat kehebohan dalam hal kriminal. 🙂 .::MK 2011::.

Referensi:

  • dr. Ryu Hasan (neurologist).
  • National Research Council of The National Academies (2003), The Polygraph and Lie Detector, Washington, D.C.,
  • Gisli H. Gudjonsson (2003), The Psychology of Interrogations and Confessions: A Handbook, England, John Wiley & Sons, Ltd.,

Bell’s Palsy

Beberapa saat yang lalu gempar beredar di time-line BBM saya mengenai separuh (bisa sebelah kiri atau kanan) bagian wajah yang mati rasa secara tiba-tiba.

Blasting tak bertuan itu rupanya bergulir bak teror bom. Bahkan ada yang menyangkutkan dengan mistisisme atau tindakan magis. Walau ada yang menggunakan pendekatan sedikit rasional, mengatakan akibat terpapar oleh angin malam terlalu sering.

Meski bukan saya yang menyebarkan berita tersebut, kawan-kawan mendesak agar saya memberikan sedikit penjelasan mengenai fenomena itu. Berikut kutipan (disunting ulang untuk blog) penjelasan saya melalui BBM.

Dunia medis mengenal fenomena ini sebagai Bell’s Palsy atau paralis muka. Digolongkan sebagai penyakit idiopatik (belum diketahui penyebabnya).

Menurut rekam medis, insiden itu terjadi pada 11-14 orang per 100.000 orang atau 1 per 60 orang. Dan biasanya 80% pasien sembuh dalam beberapa minggu atau bulan.

Ciri-ciri penyakit Bell’s Palsy-BP, kelemahannya terjadi selama 48 jam per sekali kejadian; nyeri di belakang telinga dan mati rasa selama sehari atau dua hari yang diikuti hilangnya separuh sensasi pengecap.

Namun ada beberapa indikasi medis penyakit ini terjadi karena lesi di ganglion geniculata dan saraf VII alias saraf facialis atau wajah.

Bell’s Palsy juga berhubungan dengan virus tipe 1 dicairan endoneural dan otot belakang telinga.

Infeksi pada tulang mastoid, akibat “congean” atau benturan di kepala juga diindikasikan sebagai pemicunya.

Kalau disebutkan penyakit ini disebabkan oleh angin, dapat dikatakan HOAX. Memang kalau terpapar angin seperti mati rasa, itu bukan paralis muka.

Jika dikaitkan dengan angin duduk, ini juga HOAX. Karena angin duduk adalah istilah untuk penyakit Jantung Koroner, tak ada hubungannya dengan Bell’s Palsy. (m1k35)

Gender & Sex pada Janin Ditinjau dari Perkembangan Otak

Gambar Perkembangan Otak

Gambar Perkembangan Otak

“Semua laki-laki di dunia ini awalnya adalah perempuan. Laki-laki adalah perempuan yang mengalami mutasi.”

Bagaimana mungkin laki-laki itu dulunya adalah perempuan? Berikut adalah penjelasannya.

Otak bukanlah sebuah organ yang unisex, diferensiasi antara otak perempuan dan laki-laki dimulai ketika janin berusia 8 minggu. Hingga usia tersebut, semua otak janin nampak berjenis perempuan, kemudian barulah berkembang mengikuti rancangan yang dibuat oleh gen & hormon sex. Munculnya gelombang testosteron yang dimulai pada minggu ke delapan ini akan mengubah otak yang awalnya unisex menjadi otak laki-laki. Sejatinya perkembangan otak perempuan dan laki-laki memang berbeda. Hal ini disebabkan komposisi hormon yang berbeda, akibat ada atau absennya kromosom Y.

Perlu digaris bawahi, jenis kelamin tidak sama dengan gender. Gender adalah perasaan subyektif individu tentang ‘kejantanan’ atau ‘kewanitaan’ dirinya. Jadi dalam hal gender, tidak dikenal dikotomi laki-perempuan, tidak hitam-putih, gender adalah wilayah abu-abu yang spektrumnya sangat bervariasai.

Umumnya, laki-laki biologis (genetik) identitas gendernya laki-laki, dan perempuan biologis identitas gendernya perempuan. Tapi tidak harus selalu begitu. Laki-laki yang kecewek-cewekan adalah salah satu wujud gender yang memang spektrumnya sangat luas.

Ini bukan hal yang patologis, bukan penyakit. Yang jadi masalah adalah misalnya seorang waria merasa tersiksa karena keadaannya. Yang di atasi adalah perasaan tersiksanya, bukan perasaan gendernya.

Sumber
dr. Ryu Hasan
Perkembangan Otak