Undangan Terbuka untuk Semua Jiwa

“Segala sesuatu ada kuncinya, dan kunci surga adalah mencintai kaum musthad’afin (orang-orang tertindas)” (Al Hadits)

Nah…. Sayah udah berenti ngambek… Soalnya tadi malem saya disuguhi susu yang wueanak’e pol! Sekarang pasang gambar ekspresi wajah saya dengan mimik serius di otak sampeyan. Bayangkan sayah, si Nadzir Albanna, tidak lagi cengengesan, minjem kacamata frame persegi punya temen sayah biar terlihat intelek dan berpendidikan, menyipitkan mata yang memang dari dulu sudah sipit, memperbanyak kosakata “Hmm..”, sedang menggeser (gelas) susu yang bisa menganggu tangan saya kalau ingin menggebrak meja..

Hmm.. sampai mana kemarin obrolin kita?

Oh, sampai undangan ya?

“Iya, undangan apa Dzir? Undangan nikah kan?”

Aduhhh… kenapa sih, kata “undangan” selalu diasosiasikan dengan pernikahan? Apakah karena usia saya yang kian menua (baca: matang)? Da sayah mah kumaha Allah weh… Sayah tunduk sepenuhnya pada (ketetapan)Nya. Usia berapa pun jika waktunya telah tiba, tak ada pertanyaan atasnya. Mau besok hayu, mau minggu depan hayu, mau dua tahun lagi hayu, mau empat tahun lagi hayu…

Continue reading

Advertisements